Risalah & Silsilah, Sampul, dan Cerita yang Tak Perlu Dipercaya
Daftar Isi
![]() |
| Gambar: Di balik sebuah sampul buku yang tampak sederhana, ada proses panjang yang dipenuhi keraguan, percobaan, dan keputusan-keputusan kecil yang akhirnya membentuk identitas sebuah karya. |
Pranoto Jiwo, Ruang Tunggu - Harus saya mulai dari mana, ya, ceritanya? Jujur, saya sedikit bingung membuka paragraf pertama. Akhirnya saya memutuskan memulai dari kalimat ini saja. Tidak masalah, kan? Toh suka-suka saya daripada harus membuka tulisan dengan menyebut salah satu teknologi paling populer beberapa tahun belakangan ini. Setidaknya dengan begini, tidak ada kalimat puitis yang tidak etis, apalagi metafora yang benar-benar dipaksakan.
Sebenarnya cerita ini tidak penting-penting amat. Apalagi jika harus dibandingkan dengan keindahan teknologi Tukang Nyontek.
Oiya, saya juga sengaja pakai em dash, titik dua, dan titik koma; biar kelihatan seperti penulis besar yang sedang booming dengan kecepatan menulisnya.
Risalah & Silsilah: Hal yang Tak Kusebutkan dalam Jejak & Ingatan adalah draf lama yang saya susun menggunakan format puisi, meski—setidaknya menurut saya—belum pantas disebut puisi. Mengapa demikian? Ya karena yang menyerupai puisi hanya formatnya saja. Isinya masih sebatas tulisan menye-menye yang saya yakin seratus persen akan ditolak jika harus disetorkan ke penerbit besar.
Untungnya saya punya Platform Media Independen sekaligus ruang penerbitan sendiri. Jadi ya begini; suka-suka saya. Mau dicetak satu eksemplar atau seratus, terserah saya. Yang penting happy—ingat, kan? Salah satu iklan ikonik yang ada seloroh "jangkriiiikkkkk"-nya itu, lho. Kalau tidak ingat juga tidak masalah, karena memang tidak sepenting tulisan dan cerita yang sedang saya bagikan ini.
Sekitar pukul 10.30 waktu Konoha, saya baru ingat kalau sampul buku untuk dummy cetak ternyata belum sempat dibuat. Padahal semalam saya sudah berjanji kepada diri sendiri akan menyelesaikannya sepulang kerja. Kenyataannya? Saya malah asyik membaca manhwa, lalu lanjut menonton anime Summer 2026 sampai larut malam. Alhasil, sampul Risalah & Silsilah baru benar-benar selesai keesokan harinya. ðŸ¤
Setelah pukul 13.21, di waktu dan tempat yang sama, saya baru terpikir kalau membuat sampul ternyata bisa memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Awalnya saya membuat banyak ornamen, ala-ala ilustrator—biar kelihatan keren dan wah. Ujung-ujungnya, ya kembali lagi ke gaya sederhana.
Sudah cukup lama saya tidak membuat sampul buku. Belakangan ini saya lebih banyak mengurus quality control dan proses pre-press hingga post-press publishing. Padahal kalau dipikir-pikir, pekerjaan itu juga tidak banyak-banyak amat, karena kenyataannya saya lebih sering memencet tombol mesin cetak dan keyboard daripada benar-benar memeriksa hasil cetakannya.
Namun berkat membuat sampul lagi, saya jadi sadar bahwa pekerjaan perancang sampul maupun ilustrator adalah salah satu bagian paling penting dalam industri penerbitan. Bagaimanapun juga, hal pertama yang membuat seseorang menghampiri sebuah buku yang dipajang adalah tampilannya. Setelah itu barulah mereka membaca blurb, lalu—kalau beruntung ada sampelnya—mengintip beberapa halaman isinya.
Masih ingat, kan, dengan ungkapan don't judge a book by its cover? Ungkapan itu begitu populer untuk mengingatkan bahwa sesuatu tidak boleh dinilai hanya dari tampilannya. Namun dalam dunia penerbitan, kenyataannya tidak sesederhana itu. Daya tarik pertama sebuah buku justru terletak pada sampulnya. Kalau tampilannya kurang menarik, kadang pembaca enggan mendekat, apalagi membelinya. Kecuali jika sebelumnya ada seseorang yang mengulas buku tersebut hingga membuat orang lain penasaran. Meski begitu, kejadian seperti itu juga tidak terlalu sering terjadi karena selera setiap pembaca selalu berbeda.
Tentu saja hal ini tidak berlaku seratus persen. Setiap buku yang akan terbit biasanya lebih dulu diperkenalkan melalui media sosial maupun berbagai platform lainnya. Dari sana pembaca mulai menilai dan membayangkan isi bukunya akan seperti apa. Bahkan dalam praktik penerbitan, tidak sedikit penerbit yang melibatkan pembaca dalam pemilihan desain sampul—meski, ya, biasanya konsep utamanya sudah disiapkan sejak awal. Setidaknya dengan memberikan beberapa pilihan, pembaca atau pengikut penerbit merasa ikut memiliki ruang untuk menentukan seleranya.
Eh... kok malah jadi serius, ya? Padahal tadi saya ingin mengajak kalian semua bersenda gurau—bukan bersendawa—di sini. Berhubung pembahasannya telanjur serius, saya sudahi saja. Biar yang serius cukup kisahmu dengannya saja.
Sampai jumpa di lain waktu. Semoga kalian tetap—kau; kamu; kita—rajin menulis agar suatu hari nanti bisa dianggap sebagai penulis terkenal yang karya-karyanya serba cepat, puitis, dan tentu saja penuh em dash.
Oiya, jangan lupa berkunjung ke Pranoto Jiwo kalau memang ada waktu. Siapa tahu kalian menemukan cerita-cerita lain yang sama tidak pentingnya dengan tulisan ini. Sekalian lihat juga tampilannya sejauh ini; siapa tahu ada yang bisa dikritik atau malah dijadikan bahan tertawaan.
![]() |
| Tangkapan layar tampilan blog Pranoto Jiwo |
Saya tunggu kalau memang jadi mampir. Siapa tahu dari obrolan kita nanti justru lahir tulisan baru untuk Ruang Temu. Sampai sekarang isinya baru satu surat berjudul Mengetuk Pintu di Tengah Sunyi yang puitisnya sudah hampir setara hasil racikan Tukang Nyontek—atau kalau mau terdengar lebih keren, Artificial Intelligence.
Nah, kali ini benar-benar saya akhiri. Soalnya kalau diteruskan, cerita ngalor-ngidul ini bakal semakin panjang, sementara esensinya tetap saja tidak ke mana-mana.


Posting Komentar