Catatan Pinggir tentang Sampul Buku
Daftar Isi
Pranoto Jiwo, Ruang Tunggu - Menyelesaikan satu sampul buku ternyata membuat saya mengingat kembali sesuatu yang selama ini luput diperhatikan. Selama bertahun-tahun saya lebih banyak berada di belakang proses penerbitan seperti memeriksa hasil cetak, mengurus quality control, memastikan proses pre-press hingga post-press berjalan sebagaimana mestinya. Ketika kembali mengerjakan sampul sendiri, saya baru menyadari bahwa pekerjaan tersebut bukan sekadar membuat sesuatu yang terlihat menarik.
Ada pertanyaan yang terus mengganggu sejak dummy Risalah & Silsilah selesai dicetak.
Mengapa hampir semua orang pertama kali menilai sebuah buku dari sampulnya, padahal ungkapan don't judge a book by its cover begitu sering diulang?
Mungkin ungkapan itu benar sebagai nasihat moral, tetapi belum tentu berlaku sebagai kenyataan dalam dunia penerbitan. Pembaca tidak mungkin membaca isi sebuah buku sebelum mendekatinya. Yang pertama kali bekerja justru mata, bukan pikiran. Sampul menjadi pintu pertama yang menentukan apakah seseorang akan berhenti beberapa detik lebih lama atau justru berjalan melewatinya.
Saya kemudian mencatat beberapa pertanyaan lain.
Apakah sampul yang baik adalah sampul yang indah, atau sampul yang mampu mewakili isi buku?
Apakah tipografi lebih menentukan daripada ilustrasi?
Mengapa sebagian buku klasik justru bertahan dengan desain yang sederhana, sementara banyak buku baru dipenuhi ornamen agar terlihat mencolok?
Apakah kesederhanaan benar-benar lebih sulit dikerjakan daripada keramaian?
Lalu ada pertanyaan yang lebih dekat dengan keadaan hari ini.
Jika ilustrasi kini dapat dihasilkan dalam hitungan menit oleh kecerdasan artifisial, apakah nilai seorang perancang sampul akan bergeser? Atau justru kemampuan memilih, menyusun, dan memberi arah visual akan menjadi pekerjaan yang semakin penting?
Saya juga mulai memperhatikan kebiasaan diri sendiri ketika membeli buku.
Sering kali saya mengambil sebuah buku karena tampilannya menarik. Baru setelah itu membaca judul, blurb, daftar isi, atau beberapa halaman pertama. Ada kalanya saya meletakkannya kembali ke rak. Ada pula yang akhirnya saya bawa pulang. Berarti keputusan membeli buku sebenarnya bukan lahir dari satu faktor, melainkan dari serangkaian kesan yang bekerja secara bertahap.
Mungkin sampul tidak menjual isi buku.
Namun tanpa sampul yang mengundang perhatian, isi buku sering kali tidak memperoleh kesempatan untuk dibaca.
Catatan ini belum sampai pada kesimpulan. Ia hanya menjadi pengingat bahwa di balik sebuah sampul yang tampak sederhana, tersimpan banyak persoalan yang menarik untuk dipelajari di antaranya psikologi visual, perilaku pembaca, strategi penerbitan, hingga perubahan cara kita memandang buku pada zaman yang semakin dipenuhi layar.
Barangkali, pertanyaan-pertanyaan inilah yang suatu hari nanti layak berkembang menjadi sebuah esai yang lebih utuh.

Posting Komentar