Read Indonesia: Megah di Peluncuran, Mati di Operasional
Daftar Isi
![]() |
| Gambar: Peluncuran yang megah dapat menarik perhatian sesaat, tetapi keberhasilan sebuah program budaya ditentukan oleh pengelolaan yang sabar, konsisten, dan terus bertumbuh setelah seremoni usai. |
Enam bulan telah berlalu sejak Read Indonesia diluncurkan pada 23 Desember 2025 oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Bahkan Abu Dhabi International Book Fair (ADIBF) 2026 yang semula dijadwalkan berlangsung pada April 2026 telah resmi ditunda menjadi 13–18 September 2026 akibat konflik regional yang melibatkan Iran. Penundaan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk menyempurnakan berbagai aspek yang masih kurang. Namun, hingga kini tidak terlihat perkembangan yang berarti. Situs resminya nyaris tanpa pembaruan, sementara media sosialnya berhenti berdenyut tidak lama setelah peluncuran.
Pada dasarnya saya tidak mempersoalkan lahirnya Read Indonesia. Indonesia memang membutuhkan sebuah direktori nasional yang mampu memperkenalkan karya sastra kepada pembaca internasional. Persoalannya muncul ketika ambisi besar tersebut tidak diikuti dengan kerja operasional yang menunjukkan keseriusan yang sama.
Read Indonesia dijanjikan sebagai gerbang pertama yang mempertemukan penulis Indonesia dengan penerbit dan pembaca di luar negeri. Gagasan tersebut patut diapresiasi. Akan tetapi, sebuah gerbang tidak cukup hanya dibangun agar tampak megah dari luar. Jika memang hendak menjadi pintu masuk bagi sastra Indonesia, ruang-ruang di dalamnya juga harus terus dirawat. Pengunjung tentu tidak datang hanya untuk melihat daun pintu yang mengilap. Mereka datang karena ada rumah yang hidup di baliknya. Sampai hari ini, kesan itulah yang belum terlihat. Yang dipoles seolah hanya bagian depannya, sedangkan ruang-ruang yang seharusnya terus diisi justru tampak dibiarkan kosong.
Keadaan tersebut tercermin dari data yang tersedia di situs resminya hingga akhir Juni 2026. Direktori itu baru memuat 30 judul buku yang terdiri atas 20 karya fiksi, 5 nonfiksi, dan 5 buku anak. Direktori penulis menampilkan 20 nama, tetapi empat di antaranya, yaitu Faisal Oddang, Goenawan Mohamad, Joko Pinurbo, dan Nirwan Dewanto, belum memiliki satu pun buku yang ditampilkan pada platform tersebut. Direktori penerbit baru berisi 14 nama, sedangkan agensi sastra hanya berjumlah tiga.
Persoalan utamanya bukan semata-mata karena jumlah koleksi tersebut masih terbatas. Sebuah platform yang baru diluncurkan tentu membutuhkan waktu untuk berkembang. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah tidak terlihat tanda bahwa direktori tersebut sedang bertumbuh. Data-data yang tersedia memberikan kesan bahwa sebagian besar pekerjaan berhenti setelah peluncuran resmi dilaksanakan.
Catatan serupa juga pernah disampaikan Damhuri Muhammad dalam esainya, Pintu Belakang Sastra Indonesia?, yang terbit pada Maret 2026. Ia menyoroti bahwa buku-buku yang ditampilkan tidak disertai ulasan yang dapat menjelaskan kualitas maupun posisi sastrawinya. Padahal, informasi semacam itu justru menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penerbit asing ketika menilai sebuah karya untuk diterjemahkan atau diterbitkan.
Kesan bahwa Read Indonesia lebih berorientasi pada peluncuran daripada pengelolaan berkelanjutan semakin terlihat ketika memperhatikan pembaruan kontennya. Delapan artikel berita yang tersedia seluruhnya berasal dari Oktober dan Desember 2025. Tidak ada satu pun artikel baru sepanjang tahun 2026. Dua edisi buletin digital yang dipublikasikan, yakni Edisi 1 pada Oktober 2025 dan Edisi 2 pada Desember 2025, juga berhenti setelah peluncuran. Bahkan halaman katalog masih menampilkan bagian yang belum terisi secara memadai. Polanya cukup jelas. Hampir seluruh konten dipersiapkan menjelang peresmian, tetapi sedikit sekali tanda bahwa pekerjaan tersebut terus dilanjutkan sesudahnya.
Perbandingan dengan IDWRITERS semakin memperjelas persoalan tersebut. Platform direktori sastra itu didirikan secara filantropis oleh Valent Mustamin pada 2014 dan dikelola secara sukarela oleh para penerjemah sastra yang berdomisili di Amerika Serikat, Eropa, Australia, Singapura, dan Indonesia. Tanpa dukungan anggaran negara, IDWRITERS telah berjalan selama dua belas tahun dan kini menghimpun 671 penulis, 944 buku, serta 307 penerbit.
Di sisi lain, Read Indonesia hadir dengan dukungan birokrasi pemerintah dan Dana Indonesiaraya yang bernilai Rp500 miliar. Namun, setelah enam bulan berjalan, direktori yang ditampilkan masih memuat 30 judul buku. Damhuri Muhammad bahkan mengusulkan bahwa apabila tujuan utama Read Indonesia adalah membangun direktori sastra untuk promosi internasional, tidak ada salahnya memanfaatkan fondasi yang telah dikerjakan IDWRITERS selama lebih dari satu dekade. Pandangan tersebut tentu dapat diperdebatkan. Akan tetapi, perbandingan itu memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah direktori tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh konsistensi dalam mengelolanya.
Barangkali memang terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Read Indonesia telah gagal. Enam bulan bukanlah waktu yang panjang bagi sebuah program nasional. Namun, enam bulan sudah cukup untuk memperlihatkan arah. Dari arah itulah publik dapat menilai apakah sebuah proyek sedang bertumbuh atau justru berjalan di tempat.
Saya berharap pembacaan saya keliru. Saya berharap sebenarnya ada peta jalan yang belum dipublikasikan, ada strategi jangka panjang yang belum sepenuhnya terlihat, dan ada pekerjaan-pekerjaan di balik layar yang nantinya akan menjawab berbagai keraguan ini. Harapan semacam itu tentu jauh lebih menyenangkan daripada melihat sebuah program berhenti setelah peresmiannya selesai.
Akan tetapi, hingga tulisan ini dibuat, data yang tersedia masih berbicara sebaliknya. Kita masih lebih piawai merayakan peluncuran daripada merawat keberlanjutan. Kita masih lebih sibuk mengisi panggung seremoni daripada mengisi basis data yang menjadi fondasi diplomasi sastra itu sendiri. Kita masih lebih senang berbicara mengenai diplomasi budaya daripada membangun infrastruktur yang memungkinkan diplomasi tersebut benar-benar bekerja.
Semoga beberapa bulan ke depan keadaan ini berubah. Sebab apabila Read Indonesia benar-benar ingin menjadi wajah sastra Indonesia di mata dunia, yang dibutuhkan bukan hanya peluncuran yang megah, melainkan juga pengelolaan yang sabar, konsisten, dan berkelanjutan.
Mari kita doakan tanpa mengheningkan cipta.

Posting Komentar