Antara Algoritma dan Pengalaman
Daftar Isi
![]() |
| Gambar: Di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat, membaca perlahan menjadi cara untuk memahami gagasan, bukan sekadar mengumpulkan potongan-potongan pengetahuan. |
Saya sendiri kadang merasa bahwa membuka Instagram, TikTok, maupun platform media sosial lainnya tidak banyak memberikan manfaat. Memang ada informasi yang bersifat edukatif dan memberi nilai tambah. Namun hampir semua akun yang saya temui tampaknya memiliki orientasi yang sama, yaitu membangun personal branding, berjualan, atau—bahkan bagi mereka yang mengaku sebagai kreator—meningkatkan engagement dan jumlah pengikut.
Hal tersebut sebenarnya lumrah dalam praktik teknologi informasi hari ini. Akan tetapi, saya justru merasa bahwa sebagian besar akun yang bertebaran di media sosial tidak lagi hadir sebagai ruang yang personal dan intim.
Banyak akun membagikan tips tentang AI, kepenulisan, maupun bisnis. Namun sebagian besar referensinya bertumpu pada sumber-sumber akademik, internet, atau media lain. Sangat jarang saya menemukan pembahasan yang benar-benar lahir dari pengalaman empiris penggunanya sendiri.
Selama kurang lebih enam bulan terakhir kembali aktif menggunakan media sosial, memang ada beberapa akun yang masih mengandalkan pengalaman pribadi sebagai dasar ceritanya. Namun jumlahnya terasa sedikit dibandingkan dengan akun-akun yang menyajikan informasi singkat, kemudian berujung pada penawaran kelas, produk, atau ajakan-ajakan yang terasa semakin klise. Ironisnya, hampir seluruh konten dirancang sesingkat mungkin agar mudah dikonsumsi dalam hitungan detik.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun kembali lagi pada pertanyaan di awal. Melihat kecenderungan tersebut, saya justru lebih sering merasa jenuh. Saya lebih menikmati membuka laptop, membaca draf-draf tulisan yang belum selesai, membuka Substack, Medium, maupun portal berita. Bahkan sesekali saya merasa lebih nyaman memainkan Evony: The King's Return, membaca buku, atau membuka kembali naskah-naskah yang akan dicetak.
Mungkin memang saya tidak cocok dengan suasana media sosial hari ini. Entahlah.
Namun setelah beberapa lama memikirkan hal itu, saya merasa persoalannya mungkin bukan semata-mata terletak pada media sosial. Barangkali yang berubah justru cara kita mengonsumsi pengetahuan.
Hari ini kita hidup di tengah banjir informasi. Dalam hitungan menit, seseorang bisa memperoleh ringkasan buku, panduan menulis, strategi bisnis, hingga penjelasan tentang kecerdasan artifisial. Semua tersedia, bahkan tanpa perlu bersusah payah mencarinya. Algoritma akan dengan senang hati mengantarkan apa pun yang dianggap sesuai dengan minat kita.
Sekilas keadaan itu tampak menguntungkan. Kita merasa mengetahui banyak hal hanya karena telah melihat begitu banyak informasi melintas di hadapan mata. Padahal mengetahui dan memahami adalah dua perkara yang berbeda.
Saya mulai menyadari bahwa informasi yang terlalu singkat sering kali hanya berhenti sebagai pengetahuan permukaan. Ia memberi kesan bahwa kita telah belajar, padahal yang benar-benar terjadi hanyalah mengenali potongan-potongan informasi tanpa pernah masuk ke akar persoalannya. Kita mengingat kesimpulan, tetapi melupakan proses bagaimana kesimpulan itu lahir.
Mungkin karena itulah saya lebih menikmati membaca tulisan panjang, buku, ataupun naskah yang belum selesai saya kerjakan. Di sana saya dipaksa mengikuti alur berpikir penulisnya. Saya diajak memahami mengapa sebuah gagasan muncul, bagaimana ia dibangun, dan apa yang melatarbelakangi kesimpulan yang diambil. Proses semacam itu memang membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, tetapi justru di situlah letak kenikmatannya.
Hal lain yang belakangan ini saya rasakan adalah semakin kaburnya batas antara berbagi pengetahuan dan menjadikan pengetahuan sebagai komoditas. Tidak sedikit orang yang benar-benar menguasai bidangnya, lalu membagikan pengalaman dengan tulus. Namun di saat yang sama, semakin banyak pula informasi yang disusun sedemikian rupa agar mampu menarik perhatian sebanyak mungkin sebelum akhirnya diarahkan pada produk, kelas, konsultasi, atau bentuk transaksi lainnya.
Sekali lagi, saya tidak sedang mengatakan bahwa itu salah. Setiap orang memiliki hak untuk memperoleh manfaat ekonomi dari pengetahuan yang dimilikinya. Hanya saja, ketika hampir setiap percakapan berakhir pada upaya menjual sesuatu, saya mulai merindukan ruang-ruang yang lebih jujur. Ruang tempat seseorang bercerita karena memang ingin berbagi pengalaman, bukan karena setiap kalimat harus bermuara pada konversi.
Barangkali kerinduan itulah yang membuat saya lebih sering kembali kepada buku, esai, jurnal, ataupun arsip-arsip lama. Di sana saya masih menemukan penulis yang tidak tergesa-gesa menyampaikan sesuatu. Mereka membiarkan pembacanya berjalan perlahan, mempertanyakan banyak hal, bahkan sesekali dibiarkan pulang tanpa jawaban yang benar-benar tuntas.
Mungkin saya memang mulai tertinggal dari ritme media sosial hari ini. Atau mungkin justru media sosial telah mengubah ritme kita dalam memahami sesuatu. Kita semakin cepat memperoleh informasi, tetapi semakin jarang menyediakan waktu untuk tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan.
Entahlah. Saya hanya merasa bahwa pengetahuan yang paling membekas dalam hidup saya justru bukan yang selesai dibaca dalam satu menit, melainkan yang memaksa saya kembali membuka halaman yang sama, menggarisbawahi beberapa kalimat, lalu memikirkannya berhari-hari setelah buku itu ditutup.

Posting Komentar