Yang Tampak dan Tak Tersentuh

Daftar Isi
Pencarian jati diri dalam kehidupan
Gambar: Ketika tubuh dan isi kepala tidak bergerak bersama

Pranoto Jiwo, Ruang Tunggu — Sudah beberapa hari ini, isi kepala hanya perihal kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya terlihat jelas di mata, tapi ketika ingin digapai seperti masih diraba-raba.

Mendatang usia bertambah lagi dan dunia semakin bising oleh informasi tak mutu, mulai dari carut-marutnya kehidupan di Ibu Kota hingga sosial media yang kebanyakan isinya seputar AI dan konten-konten viral—yang juga dibuat menggunakan AI.

Beberapa tahun lalu—jika tidak salah ingat antara tahun 2019 hingga 2024—saya berhenti bermain sosial media dan rasanya menenangkan. Bisa bersantai, menulis, membaca buku dan bahkan sekadar mendengarkan lagu sembari menyesap kopi.

Namun, pada pertengahan tahun 2025 ketika saya membuka kembali blog pribadi Ritus & Langgam—dulu isinya masih campur dan segala bentuk keresahan serta belum saya gagas menjadi platform media independen dan ruang penerbitan. Aktivitas membawa saya kembali menggunakan sosial media. Sebenarnya ada sedikit rasa enggan, tapi jika saya tidak melakukan ini, maka apa yang saya gagas dan rencanakan bisa dipastikan gagal total. Bukan karena tidak ada wadahnya, melainkan setiap tulisan maupun artikel yang terbit harus disebarkan ke beberapa platform lain agar bisa bertemu pembacanya.

Jika ditanyakan, bagaimana perasaan saya dulu ketika menjauh dari hiruk pikuk sosial media dan interaksi digital. Maka saya akan menjawabnya dengan sangat mantap: “itu adalah sesuatu yang luar biasa”. Namun jika ada yang bertanya sebaliknya, apa yang saya rasakan hari ini ketika kembali ke dunia yang penuh hingar bingar. Maka jawaban yang akan saya berikan pasti sedikit membikin orang jengah atau mungkin akan ada yang berkata “sok suci” atau “tidak perlu berpura-pura, kamu juga menikmati kan konten-konten viral, fyp, dan penuh dengan lekuk tubuh yang menggoda itu.”

Iya pernyataan atau pikiran orang pada bagian kedua itu tidak bisa disalahkan, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Algoritma setiap platform memang dirancang begitu, memberikan jangkauan yang luas kepada orang lain, bahkan ketika kita tidak mengikuti orang tersebut. Ini adalah pengetahuan umum, di mana sosial media mengikuti pola dan perilaku penggunanya. Meski sejatinya tidak demikian sepenuhnya karena sistem yang digunakan oleh setiap platform memang begitu, itu adalah bagian dari strategi agar orang mau berlama-lama dan tidak pindah ke platform lain.

***

Kembali lagi ke cerita awal. Kemarin, tepatnya hari Sabtu ketika sedang bekerja dan menyetak buku konsumen. Rasa-rasanya pikiran dan tubuh bergerak di luar batas, di mana isi kepala menerawang jauh ke depan—sekitar 5 sampai 10 tahun lebih—dan tangan serta tubuh yang lain bekerja, mengklik tombol-tombol mesin, memindahkan kertas, hingga menyusun lembar demi lembar hasil cetakan.

Entah saya harus menyebut ini apa, sebenarnya saya juga bingung menjelaskannya. Karena hal itu benar-benar sukar dijelaskan, hanya bisa saya rasakan, meski semua yang saya pikirkan itu benar-benar tampak jelas di mata, bahkan saya merasa bahwa itu adalah kehidupan saya sendiri. Namun, sekali lagi, saya hanya bisa melihatnya tapi saat akan digapai maupun disentuh, ia tampak begitu jauh. Seketika saya merasa berada di ruang paling sunyi dan gelap, meraba-raba begitu banyak hal yang kasat mata, tapi alpa kehadirannya. Apakah ini yang dinamakan fatamorgana, semu, ilusi, dan halusinasi? Entahlah.

Tapi perlu saya ingatkan. Jangan berasumsi bahwa ini perjalanan ke masa depan atau dunia pararel. Bukan—mungkin saya juga perlu meminta maaf kepada orang-orang atau kawan-kawan yang membaca tulisan ini, karena kemungkinan besar tulisan ini hanya keresahan dan luapan emosi yang lupa saya seduh bersama kopi pahit siang tadi. Saya juga harap maklum apabila susunan maupun sistematika hingga stilistika yang ada di sini kacau. Karena memang tujuannya hanyalah berbagi cerita, tidak lebih dan tidak kurang.

Mungkin itu saja dulu. Semoga nanti saya bisa mengingat-ingat kembali dan menata ulang isi kepala. Sehingga ada lanjutan dari cerita ini. Sampai jumpa di Ruang Tunggu maupun Ruang Baca, di sesi berikutnya.

Posting Komentar