Mengetuk Pintu di Tengah Sunyi

Daftar Isi
Mesin ketik tua dan kertas bertuliskan Stories Matter
Gambar: ilusterasi gambar bertuliskan Stories Matter yang dibuat menggunakan Canva

Salam,

Surat ini saya tulis di tengah sunyinya malam, tepat empat hari setelah saya memutuskan untuk meluncurkan situs Pranoto Jiwo ke internet.

Selama beberapa hari ini, perhatian saya lebih tertuju pada angka statistik pengunjung daripada naskah yang sedang saya kerjakan. Hasilnya pun dapat ditebak. Situs ini masih sepi. Belum ada komentar yang masuk, surel di kotak masuk saya pun masih kosong. Mungkin, orang yang berkunjung ke sini masih bisa dihitung dengan jari.

Jujur saja, sempat muncul keraguan dalam pikiran saya. Di tahun 2026 ini, dunia internet sudah sangat bising. Orang-orang lebih gemar membaca teks singkat atau menonton tayangan yang berakhir dalam hitungan detik. Lantas, untuk apa saya bersusah payah membangun situs yang berisi tulisan-tulisan panjang?

Jawaban itu akhirnya saya temukan saat saya membuka kembali draf naskah lama di laptop saya. Saya sadar bahwa situs ini tidak saya bangun untuk mengejar angka kunjungan atau popularitas. Saya hanya memerlukan ruang untuk memperlambat ritme hidup. Saya ingin menyediakan sudut sunyi tempat saya bisa menuangkan esai dengan kepala dingin, menguji logika atas opini publik yang keliru, menaruh draf mentah yang belum selesai, atau berbagi kisah tentang buku-buku yang pernah memulihkan luka batin saya.

Namun, ketika melihat kolom komentar yang masih kosong, saya tersadar akan satu hal. Menulis di internet akan terasa melelahkan jika hanya menjadi monolog. Saya tidak ingin menjadi penulis yang berdiri sendirian di atas panggung, menceramahi orang-orang, lalu pergi begitu saja. Cara seperti itu terasa membosankan bagi saya.

Itulah alasan mengapa saya menulis surat ini. Saya ingin ruang ini menjadi jembatan agar kita bisa saling bertukar cerita secara setara, tanpa sekat dan tanpa kepura-puraan.

Memulai sesuatu benar-benar dari titik nol memang terasa sepi. Akan tetapi, kesunyian inilah yang membuat saya bisa menulis kepada Anda dengan sejujur-jujurnya, tanpa harus mengikuti tuntutan algoritma yang sering kali menyesatkan.

Pintu komunikasi telah saya buka. Jika Anda kebetulan mampir ke sudut ini dan merasakan keresahan yang sama, saya akan sangat senang jika Anda membalas surat ini. Anda tidak perlu memberikan pujian. Sapaan singkat, kritik yang jujur, atau cerita mengenai apa yang sedang mengusik pikiran Anda hari ini akan menjadi hadiah yang sangat berarti bagi meja kerja saya.

Silakan tulis balasan Anda di kolom komentar di bawah. Saya akan menunggu dan membaca setiap kata yang Anda sampaikan.

Dari sudut sunyi,
Pranoto Jiwo

Posting Komentar