Menenun Kembali Ingatan: Tentang Proses, Jeda, dan "Menenun dan Menyulam Namamu"

Daftar Isi
Ilustrasi tangan penulis yang sedang menyusun draf naskah di meja kerja yang tenang.
Gambar: Setiap draf yang tersimpan adalah helai benang yang menunggu untuk ditenun menjadi sebuah karya yang utuh.

Pranoto Jiwo, Ruang Temu — Ada kalanya sebuah tulisan bukan sekadar produk jadi, melainkan sebuah proses yang terus bernapas. Begitu pula dengan Rindu dan Ingatan-Ingatan Tentangmu. Tulisan yang semula lahir sebagai dua bentuk prosa liris—format puisi dan prosa—ini saya tulis di Yogyakarta pada 6 dan 8 September 2022. Sebagai sebuah epistola, ia adalah surat yang ditujukan pada ruang kosong, sebuah catatan sejarah personal yang mengingatkan bahwa selalu ada rasa yang tidak pernah benar-benar selesai.

Menghadapi Ketidaksempurnaan

Saya menyadari bahwa tulisan tersebut jauh dari kata sempurna. Bagi pembaca, mungkin akan ditemukan banyak stilistika yang tidak lazim, asosiasi yang samar, bahkan celah pada koherensi linguistiknya. Sebagai penulis, saya tidak berniat menutupi kekurangan tersebut dengan alasan teknis. Saya menerimanya sebagai bagian dari fase pertumbuhan pemikiran saya pada saat itu.

Namun, sebagaimana layaknya karya yang masih hidup, ketidaksempurnaan adalah undangan untuk perbaikan. Saya memutuskan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan mentah yang selama ini tersimpan di Arsip Ritus & Langgam—memiliki benang merah tema yang sama—menjadi satu kesatuan naskah utuh bertajuk: Menenun dan Menyulam Namamu.

Mengapa Harus "Menenun dan Menyulam Namamu"?

Awalnya, saya sempat mempertimbangkan judul Ritus & Langgam: Cinta itu Aku, Seluruhku Kamu. Namun, saya menyadari bahwa judul Ritus & Langgam sudah digunakan pada naskah lain, baik dalam format puisi maupun prosa kontemplatif.

Saya memilih judul Menenun dan Menyulam Namamu karena setiap tulisan yang saya buat selalu mengusung tema yang utuh. Menenun adalah tentang menyatukan helai-helai benang menjadi kain, sementara menyulam adalah tentang memberikan detail dan keindahan pada titik-titik tertentu. Begitu pula dengan cara saya mengolah draf yang berserakan, saya ingin menyusun fragmen ingatan menjadi sebuah narasi yang memiliki rupa yang lebih solid.

Tentang Waktu dan Tujuan Akhir

Mungkin ada yang bertanya, mengapa proyek ini belum selesai sepenuhnya?

Saya tidak akan berlindung di balik pembelaan bahwa membuat karya utuh itu sulit. Secara teknis, jika saya hanya mengejar target penyelesaian, naskah ini bisa rampung dalam kurun waktu 2-3 bulan. Bahannya sudah tersedia, baik di Arsip Ritus & Langgam maupun di dokumen-dokumen lama dalam laptop saya.

Namun, menyelesaikan tulisan bukanlah tujuan akhir saya. Saat ini, fokus saya sedang tercurah pada pengembangan sebuah platform yang nantinya akan menjadi wadah bagi penulis pemula atau siapa pun yang memiliki visi serupa dalam merawat aksara. Saya ingin menciptakan ekosistem di mana tulisan tidak sekadar diterbitkan, tetapi dirawat dan didiskusikan.

Refleksi Sebagai Epistola Personal dan Impersonal

Tulisan ini mungkin terasa melebar, melompat dari satu topik ke topik lainnya. Namun, itulah sejatinya proses menulis. Ia adalah upaya mengingat dan membagikan cara saya bekerja. Ini adalah refleksi yang saya kemas sebagai sebuah epistola—surat yang bersifat pribadi karena berasal dari kedalaman batin, sekaligus impersonal karena ia terbuka untuk dibaca oleh siapa saja yang mungkin merasa senasib.

Saya berharap cerita singkat ini menjadi setitik ketenangan bagi Anda yang membacanya. Semoga di dalam setiap kata, Anda dapat menemukan tempat di mana segala keresahan dapat bertemu dan lahir kembali dengan rupa yang paling indah.

Posting Komentar